Monday, June 10, 2013

Banjir Perkotaan (Urban Flood)


Banjir merupakan fenomena alam dimana terjadi kelebihan air yang tidak tertampung oleh jaringan drainase di suatu daerah sehingga menimbulkan genangan yang merugikan. Kerugian yang diakibatkan banjir seringkali sulit diatasi baik oleh masyarakat maupun instansi terkait. Banjir disebabkan oleh berbagai macam faktor, yaitu:
a.       kondisi daerah tangkapan hujan,
b.      durasi dan intesitas hujan,
c.       tata guna lahan,
d.      kondisi topografi, dan
e.       kapasitas jaringan drainase
Banjir di daerah perkotaan memiliki karakteristik yang berbeda dengan banjir pada alamiah. Pada kondisi di alam, air hujan yang turun ke tanah akan mengalir sesuai kontur tanah yang ada ke arah yang lebih rendah. Untuk daerah perkotaan pada umumnya air hujan yang turun akan dialirkan masuk ke dalam saluran-saluran buatan yang mengalirkan air masuk ke sungai. Kontur lahan yang terdapat di daerah perkotaan direncanakan agar air hujan yang turun mengalir ke dalam saluran-saluran buatan tadi. Ada kalanya, kapasitas saluran tersebut tidak mencukupi untuk menampung air hujan yang terjadi, sehingga mengakibatkan terjadinya banjir.
Kasus-kasus banjir di daerah perkotaan memiliki beberapa masalah yang perlu ditelaah lebih lanjut. Arah aliran yang terjadi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi topografi lahan, karena adanya bangunan-bangunan yang menghalangi arah aliran air. Aliran yang terjadi berubah arah karena membentur bangunan dan mengakibatkan arah aliran menjadi tidak beraturan.

Banjir Perkotaan

Monday, April 29, 2013

Plutea (Plumeria Alba Tea) sebagai Alternatif Pengobatan Penyakit Kanker


Kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal secara cepat dan progresif yang disebabkan oleh berbagai macam faktor antara lain karena adanya mutasi gen dan paparan bahan-bahan karsinogenik (Wilson, 2005). Kanker merupakan penyebab kematian terbanyak kedua di dunia setelah penyakit kardiovaskular.
Pengobatan konvensional yang umum dilakukan pada penyakit kanker antaranya dengan pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi. Namun, terapi kanker secara pembedahan tidak dapat dilakukan khususnya pada sel kanker yang telah menyebar (metastasis), sementara pengobatan kemoterapi dan radiasi dapat menimbulkan efek samping. Oleh karena itu diperlukan sebuah alternatif pengobatan terutama yang berasal dari bahan alam yang pastinya mudah didapat, murah, efektif, dan tanpa efek samping (Hawariah : 1998).
Salah satu tanaman yang telah banyak dikenal dan digunakan secara luas oleh masyarakat Indonesia adalah kamboja (Plumeria alba). Kamboja mudah sekali ditemukan dan didapatkan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Masyarakat Indonesia telah lama menggunakan kamboja sebagai obat tradisional untuk mengobati berbagai macam penyakit.
Daun kamboja (Plumeria alba Linn), mengandung senyawa flavonoid, terpenoid, glycoside, dan alkaloid (Hidayat : 2001). Penelitian menjukkan bahwa ekstrak daun kamboja mempunyai potensi toksisitas akut. Hal tersebut berkaitan dengan senyawa yang terdapat dalam daun kamboja yaitu flavonoid.
Flavonoid adalah senyawa polifenol yang banyak tersebar di alam dan memiliki efek potensial yang menguntungkan pada kesehatan manusia sebagai antivirus, anti-alergi, anti-inflamasi, antikanker dan antioksidan.
Melalui metode studi pustaka dan pengumpulan data, maka didapatkan bahwa kandungan favonoid dalam Plumeria alba dapat digunakan sebagai obat antikanker. Mekanisme flavonoid sebagai antikanker ada beberapa teori, yaitu flavonoid sebagai antioksidan, flavonoid sebagai penghambat proliferasi kanker, Flavonoid sebgai penghambat aktivitas reseptor tirosin kinase, dan flavonoid sebagai pengurang resistensi tumor terhadap agen kemoterapi.
Pemanfaatan Plumeria alba sebagai obat anti kanker dilakukan dengan memilih bentuk teh (Plutea). Hal ini terkait dengan teh yang sudah menjadi minuman yang dikenal luas oleh masyarakat sehingga Plutea (Plumeria alba Tea) dapat digunakan sebagai konsumsi sehari-hari yang berguna bagi kesehatan. Selanjutnya Plutea dikemas dalam bentuk teh celup sehingga lebih praktis.

Sunday, April 28, 2013

The Power of Kepepet


Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata Belanda? Sebagian besar mungkin akan menjawab bunga tulip, sebagian lagi mungkin berpikiran kincir angin, atau mungkin kalian masih membayangkan, “penjajah”? Well, in my opinion, Dutch is a pioneer. Sebuah negara yang menyibak tirai pengetahuan dunia tentang pengelolaan sumber daya air.

Bunga Tulip dan Kincir Angin, Ikon Negara Belanda

Belanda merupakan negara dengan sebagian besar wilayahnya berada di bawah permukaan laut. Negara ini juga dilalui oleh tiga sungai besar, yaitu Sungai Rijn, Waal, dan Maas. Hal ini membuat Belanda sangat akrab dengan air.  Akan tetapi, air dalam jumlah yang tidak dapat dikendalikan dapat menjadi masalah yang sangat besar. Hal itulah yang dihadapi oleh bangsa Belanda selama ini, yaitu ancaman banjir dari dua penjuru sekaligus, luapan sungai dan muka air pasang.

“God created the world, but the Dutch created Holland”,

adalah sebuah ungkapan dari Rene Descartes yang menggambarkan bagaimana keajaiban bangsa Belanda menciptakan negara bagi mereka sendiri. Ungkapan ini tidak akan terkesan berlebihan apabila kita melihat ke belakang mengenai apa yang telah bangsa Belanda lakukan untuk menyelamatkan negaranya dari ancaman air.

Wilayah Negara Belanda
 
Perjuangan bangsa Belanda dalam menghadapi musuh bebuyutannya telah dimulai jauh pada abad pertengahan dengan memperkenalkan sistem polder. Polder merupakan sebuah sistem pengelolaan air yang kompleks dengan elemen meliputi saluran air, tanggul, pompa, dan kolam penampungan air. Pada perkembangannya, ditambahkan satu lagi elemen dalam sistem ini, yaitu kincir angin yang berfungsi sebagai pompa. Kincir angin inilah yang akhirnya menjadi ikon dari negara Belanda.

Sistem Polder dan Kincir Angin

Selain menggunakan sistem polder untuk mencegah banjir, bangsa Belanda juga berhasil memanfaatkan sistem tersebut untuk mengeringkan lautan. Seperti kita ketahui bahwa Belanda memiliki wilayah yang relatif sempit. Keterbatasan ini mendorong bangsa Belanda untuk merintis teknologi reklamasi. Melalui teknologi ini, bangsa Belanda berhasil menambah luas wilayah negaranya menjadi hampir dua kali lipat.

Badai Laut Utara (1953)
 
Sebuah banjir besar yang diakibatkan oleh badai Laut Utara pada tahun 1953 mendorong Belanda untuk merintis sebuah proyek besar dalam memerangi musuh bebuyutannya, The Delta Project. Proyek tersebut merupakan sebuah proyek futuristik dalam bidang teknologi pengelolaan bajir pada masa mendatang. Bukannya melakukan analisa terhadap banjir yang terdahulu, proyek ini menitikberatkan pada sebuah konsep baru dalam penanggulangan banjir. Secara umum, proyek ini berisi identifikasi pada wilayah utama yang rawan dan perhitungan statistika untuk perencanaan bangunan pengaman yang kompleks. Proyek ini terbukti berhasil dan bahkan digolongkan ke dalam 7 Keajaiban Dunia Modern.

Saat ini Belanda dijadikan panutan dalam usaha pengelolaan sumber daya air. Insinyur-insinyur Belanda menjadi pionir dalam pembangunan proyek-proyek raksasa pengelolaan sumber daya air di seluruh dunia, termasuk penanganan banjir akibat Badai Katrina di Amerika Serikat maupun penanganan banjir di Jakarta.

The Delta Project

Tuhan menciptakan Belanda pada daerah yang tidak menguntungkan secara geografis, tetapi hal tersebut justru membuat mereka bangkit. Mereka sadar betul akan kekurangannya dan berusaha untuk memulai perubahan. Saat ini, terbukti memang bahwa langkah-langkah yang telah mereka lakukan telah menciptakan negara Belanda itu sendiri. Sebuah negara yang sukses karena keterbatasannya. That’s the power of kepepet!


Kanal di Amsterdam
  
Jadi sekarang apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata Belanda?